Denpasar, CompasBMR.com — Empat hari pascabanjir bandang yang melanda Kota Denpasar, Bali, suasana di kawasan Pasar Badung masih dipenuhi lumpur, puing, dan sisa-sisa bangunan ruko yang rusak berat. Di tengah situasi pemulihan itu, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung, Sabtu (13/9/2025) siang, meninjau titik terparah banjir sekaligus menyapa warga yang terdampak.
Sekitar pukul 13.00 WITA, Presiden tiba di Gang IV Jalan Gajah Mada, Denpasar, yang berlokasi tepat di bantaran Tukad Badung. Lokasi ini menjadi salah satu titik paling parah saat air sungai meluap pada Rabu dini hari lalu. Dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang, Prabowo berjalan kaki menyusuri gang sempit yang masih dipenuhi sisa lumpur. Sesekali ia berhenti, menyapa warga, pedagang, hingga anak-anak yang kehilangan rumah maupun tempat usaha.
“Bapak, ibu, tetap semangat ya. Pemerintah akan bantu supaya bisa bangkit lagi,” ucap Prabowo, sambil menepuk bahu seorang pedagang sayur yang lapaknya terendam hingga tak bersisa.
Dialog dengan Warga
Kehadiran Presiden disambut antusias. Banyak warga berusaha mendekat untuk sekadar berjabat tangan atau menyampaikan keluhan. Beberapa pedagang mengutarakan kesulitan mereka setelah kehilangan modal. Ada pula anak-anak yang sempat ditenangkan Prabowo, yang menyampaikan akan mengupayakan bantuan perlengkapan sekolah.
Setelah sekitar 30 menit meninjau Pasar Badung dan Pasar Kumbasari, Prabowo kemudian melanjutkan perjalanan ke Istana Tampaksiring, Gianyar. Namun, pesan utamanya jelas: pemerintah pusat akan hadir dan membantu pemulihan.
Tiga Korban Jiwa
Data terbaru dari Pemerintah Kota Denpasar menyebutkan, banjir bandang yang terjadi akibat meluapnya Tukad Badung menelan tiga korban jiwa. Ketiganya ditemukan meninggal setelah terseret arus deras. Selain korban jiwa, puluhan ruko di sepanjang Jalan Sulai dan Jalan Gajah Mada rusak parah, sebagian bahkan harus dibongkar total.
Di lokasi yang sama, Sabtu sore, aparat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Pemkot Denpasar masih melakukan pembongkaran bangunan. Suara palu dan mesin pemotong besi terdengar bersahutan, sementara truk-truk pengangkut puing keluar-masuk lokasi.
“Proses pembongkaran ini dilakukan demi keselamatan. Ruko-ruko yang rusak berat tidak bisa lagi ditempati,” kata Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak akan lagi mengizinkan pembangunan ruko baru di bantaran Tukad Badung.
Presiden Janjikan Bantuan
Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga bantuan nyata. Khusus bagi para pedagang Pasar Badung, Prabowo menjanjikan bantuan dana sebagai modal usaha agar aktivitas ekonomi bisa kembali berjalan.
“Saya sudah instruksikan agar segera dihitung kebutuhan modal para pedagang. Pemerintah akan menyalurkan dana bantuan agar mereka bisa berdagang kembali. Jangan sampai bencana ini membuat ekonomi rakyat terhenti,” ujar Prabowo.
Selain bantuan modal, pemerintah juga menyiapkan alokasi anggaran untuk mempercepat normalisasi Tukad Badung. Program tersebut mencakup pengerukan sedimen sungai, perbaikan talud, hingga pembangunan sistem drainase tambahan di kawasan padat penduduk Denpasar.
Penataan Kawasan Sungai
Bencana banjir bandang kali ini menjadi peringatan keras bagi Denpasar. Alih fungsi lahan di bantaran sungai dinilai menjadi salah satu pemicu utama meluapnya air. Bangunan permanen yang berdiri terlalu dekat dengan sungai menghambat aliran air, sementara sistem drainase kota belum mampu menampung curah hujan tinggi.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, yang turut mendampingi Presiden, menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan penataan menyeluruh. “Tidak boleh lagi ada pembangunan ruko di pinggir Tukad Badung. Kita akan kembalikan fungsi bantaran sungai sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan,” katanya.
Langkah ini, menurut Basuki, sejalan dengan program nasional pengendalian banjir perkotaan. Denpasar akan menjadi prioritas, mengingat intensitas hujan di Bali kerap tinggi dan potensi banjir meningkat akibat perubahan iklim.
Pemulihan Berjalan
Sementara itu, di lokasi pengungsian sementara, sejumlah warga masih bertahan. Mereka menempati balai banjar, sekolah, hingga rumah kerabat. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan terus disalurkan oleh pemerintah daerah bersama relawan.
Meski kondisi masih sulit, semangat warga Denpasar untuk bangkit tampak jelas. Beberapa pedagang memilih membuka lapak darurat di pinggir jalan, menggunakan meja kayu seadanya. Mereka tetap berjualan buah, sayur, dan kebutuhan sehari-hari.
“Saya tidak bisa hanya menunggu bantuan. Harus mulai lagi, meskipun kecil-kecilan. Semoga nanti ada bantuan modal dari pemerintah,” kata Ni Luh Ayu (45), pedagang sayur di Pasar Badung.
Harapan Baru
Kunjungan Presiden Prabowo menjadi dorongan moral sekaligus harapan baru bagi warga Denpasar. Kehadirannya dianggap menunjukkan kepedulian pemerintah pusat terhadap penderitaan rakyat. Namun, warga juga berharap komitmen bantuan benar-benar terealisasi, bukan sekadar janji.
“Kami senang Presiden datang, berarti beliau peduli. Tapi yang lebih penting adalah bantuan cepat sampai, supaya kami bisa bangkit,” ujar Made Sutama (52), pedagang kain yang rukonya rusak berat.
Bagi warga Denpasar, banjir bandang ini menjadi pengalaman pahit yang tidak ingin terulang. Mereka mendukung rencana pemerintah menata bantaran Tukad Badung, asalkan juga disertai solusi bagi pemilik lahan dan pedagang yang terdampak.(**/Red)












