Tutuyan, CompasBMR.com – Di ruang rapat yang biasanya penuh dengan urusan pemerintahan, siang itu suasananya terasa berbeda. Tak ada tumpukan berkas, tak ada diskusi anggaran, tak ada rapat koordinasi yang menegangkan. Sebaliknya, yang hadir adalah wajah-wajah yang bersinar dengan kebanggaan dan doa. Di tengah mereka berdiri seorang remaja berseragam rapi, menunduk penuh hormat di hadapan pemimpin daerahnya.
Dialah Rasya Alfarizi Mamonto-Koto, utusan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur untuk ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional 2025. Di usia yang masih belia, Rasya membawa beban sekaligus kehormatan besar — menjadi duta kecil dari tanah Totabuan Timur di panggung nasional.

Dari Boltim untuk Indonesia
Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, S.E., M.M., tampak tersenyum hangat ketika menyalami Rasya. Momen itu sederhana, tapi sarat makna. Ia bukan sekadar melepas seorang peserta lomba, melainkan mengantar sebuah harapan.
“STQH bukan hanya ajang lomba,” ujar Oskar dalam sambutannya, suaranya tenang namun tegas. “Ini adalah wahana strategis untuk menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur’an — bukan hanya dalam bacaan, tapi juga dalam hafalan, pemahaman, dan pengamalan.”
Ucapan itu bergema di ruang rapat, disambut anggukan dari hadirin — Tenaga Ahli Bupati, Perwakilan Kementerian Agama, Asisten III Bidang Administrasi Umum Hardiman Pasambuna, dan sejumlah pimpinan OPD yang turut hadir.

Rasya hanya tersenyum kecil. Ia memeluk mushaf kecil yang selalu ia bawa, seolah menjadi penopang semangatnya. Dalam beberapa hari lagi, ia akan berangkat ke Kendari, Sulawesi Tenggara, tempat STQH Nasional digelar pada 9–19 Oktober 2025.
Bagi sebagian orang, perjalanan dari Boltim ke Kendari mungkin hanya perjalanan fisik. Tapi bagi Rasya, itu adalah perjalanan spiritual — dari ruang kecil di rumahnya, dari setiap subuh yang diisi dengan lantunan ayat, menuju panggung besar di mana nama Boltim akan disebut bersanding dengan daerah-daerah besar lainnya.
Jejak Suara di Langit-Subuh
Perjalanan Rasya bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana namun religius. Sang ayah adalah seorang guru mengaji di kampung, ibunya aktif dalam kegiatan majelis taklim. Sejak kecil, Rasya terbiasa mendengar lantunan ayat Al-Qur’an sebelum tidur.
“Dia sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh,” tutur seorang guru di madrasah tempat Rasya belajar. “Biasanya dia datang paling awal, duduk di pojok mushalla, lalu mengulang hafalannya.”
Dari kebiasaan itu, suara Rasya mulai dikenal di lingkungannya. Lembut tapi jelas, penuh penghayatan. Tak jarang ia diundang menjadi qari muda di berbagai acara keagamaan di Boltim.
Ketika lomba STQH tingkat kabupaten digelar, namanya muncul sebagai kejutan. Tak banyak yang tahu bahwa di balik sosoknya yang pendiam, tersimpan kemampuan tilawah yang menyentuh hati. Rasya menang. Ia lalu melaju ke tingkat provinsi, dan lagi-lagi menorehkan prestasi. Kini, di tingkat nasional, ia siap membawa nama daerahnya ke tingkat tertinggi.

Doa dan Harapan dari Pemimpin
Bupati Oskar Manoppo tampak menatap Rasya dengan bangga. “Saya yakin, dengan niat yang tulus dan latihan yang sungguh-sungguh, prestasi terbaik akan kita raih,” ucapnya.
Namun di balik doa itu, Oskar juga ingin mengingatkan bahwa STQH memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar kompetisi. Ia berharap momentum ini menjadi penggerak bagi masyarakat Boltim untuk semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.
“Melalui STQH ini, kita berharap lahir generasi Qur’ani — generasi yang tidak hanya pandai membaca, tapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” ujar Oskar.
Kalimat itu menggema sebagai pesan moral — bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari piala yang dibawa pulang, tetapi dari seberapa dalam nilai Al-Qur’an tertanam dalam diri generasi muda Boltim.
Semangat dari Daerah Kecil
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur mungkin bukan wilayah besar di Indonesia. Namun dari daerah kecil seperti inilah, sering lahir kisah-kisah besar. Kisah tentang anak-anak muda yang berjuang dengan tekad, tentang pemimpin yang menaruh harapan, dan tentang masyarakat yang selalu siap memberi doa.
Dalam konteks itu, keikutsertaan Rasya di STQH Nasional bukan hanya soal prestasi individu. Ia adalah simbol dari semangat daerah yang ingin dikenal bukan karena ukuran, tapi karena kualitas.
“Bagi kami, Rasya adalah kebanggaan,” kata Asisten III Hardiman Pasambuna usai acara. “Ia menunjukkan bahwa anak-anak Boltim punya potensi besar bila diberi ruang untuk berkembang.”

Dari Doa ke Prestasi
Menjelang akhir acara, Bupati Oskar mengulurkan tangan, memimpin doa bersama. Semua kepala menunduk. Dalam kesunyian itu, doa terasa begitu khusyuk. Doa untuk keselamatan, untuk kekuatan, dan untuk keberhasilan Rasya di ajang nasional.
“Semoga Allah SWT memberi kemudahan dan perlindungan, serta mengantarkan Rasya pada prestasi terbaik,” ucap Bupati dengan suara bergetar.
Rasya mengangguk pelan. Di matanya, terpancar semangat yang tulus. Ia tahu perjalanan tidak akan mudah, tetapi ia juga tahu bahwa di belakangnya berdiri sebuah kabupaten yang penuh doa.
Menjadi Inspirasi
Ketika acara selesai, Rasya melangkah keluar dari ruang rapat dengan senyum malu-malu. Di tangannya, ia membawa surat tugas dan mushaf kecil yang tak pernah lepas. Di halaman kantor bupati, angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah Boltim yang selalu ia rindukan.
Mungkin inilah yang dimaksud Bupati Oskar sebagai “generasi Qur’ani”. Bukan sekadar mereka yang mampu membaca dengan indah, tapi mereka yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari — dalam kesederhanaan, keikhlasan, dan keteguhan.
Bagi Rasya, perjalanan ke Kendari bukan sekadar untuk berlomba. Ini adalah panggilan hati, sebuah bentuk pengabdian kecil kepada Allah, kepada keluarganya, dan kepada tanah kelahirannya.
Dan bagi masyarakat Boltim, keberangkatan Rasya adalah pengingat bahwa prestasi besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan keyakinan dan doa.
Kendari menanti.
Namun sebelum melangkah jauh, satu hal telah pasti — Rasya Alfarizi sudah menorehkan kemenangan pertama: memenangkan hati dan kebanggaan masyarakat Bolaang Mongondow Timur.(Adv)












